Membangun Kebun Bergizi Modern

Membangun Kebun Bergizi Modern

Haryono Suyono, Februari 2017

Awal bulan lalu, bersama seluruh jajaran Yayasan Anugerah Kencana Buana (Anugerah) yang dipimpin oleh Ketuanya Drs. Fajar Wiryono AA, disertai pembinanya, Bapak Tantyo Sudharmono dan Haryono Suyono, telah berkunjung selama satu hari penuh di Kantor Pusat Seameo Biotrop di Bogor. Kunjungan itu diterima oleh Direktur Dr. Ir. Indika Mansur, M. For. Sc, mantan Direkturnya Prof. Dr. Bambang Purwantara dan seluruh jajarannya. Kunjungan itu sesungguhnya merupakan kunjungan ulangan yang dilakukan sebagai rasa terima kasih karena selama ini Seameo Biotrop telah membantu pemberdayaan keluarga prasejahtera melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia yang terjun ke desa-desa.

Selama beberapa tahun Seameo Biotrop, sebagai salah satu lembaga ASEAN telah bekerja sama dengan Yayasan Damandiri membantu mengirim bibit pisang Cavendish dan bibit buah-buahan lainnya ke berbagai Posdaya di pedesaan. Berbagai bibit tanaman itu dipergunakan oleh para anggota Posdaya guna membangun Kebun Bergizi. Utamanya bibit Pisang Cavendish yang bisa cepat berbuah dalam usia delapan bulan bisa menolong keluarga prasejahtera yang menanam bibit itu di halaman belakang rumahnya dan menikmati buah pisang itu dalam waktu hanya delapan bulan pisangnya menghasilkan buah dan dapat dijual dengan harga lumayan. Pada banyak Posdaya, buah pisang itu merangsang tumbuhnya kegiatan ekonomi keluarga dengan mengolah pisang menjadi komoditas laku jual seperti kue pisang dan makanan kecil lain yang bahan bakunya dari pisang. Tidak jarang dalam lingkungan Posdaya dikembangkan kebersamaan sehingga dapat memasok pisang dan produk ikutannya kepada warung yang ada di desanya secara berkelanjutan.

Dibeberapa kabupaten yang Posdayanya maju pesat, antara lain Pacitan, pasokan dari Seameo Biotrop tidak saja berupa bibit pisang Cavendish tetapi juga bibit tanaman lainnya seperti sengon dan lainnya. Pasokan itu dilakukan dengan mengganti biaya pengembangan sekedarnya sehingga terasa ringan dan dapat membantu rakyat dan keluarga prasejahtera di pedesaan. Pada umumnya bibit dalam lingkungan Seameo Biotrop dikembangkan melalui sistem kultur jaringan yang menjamin kualitas yang sama untuk jumlah bibit yang relatif massal dan jumlahnya banyak.

Dalam peninjauan di Kantor Pusat Seameo Biotrop bersama Bapak Tantyo Sudharmono yang bersama-sama sedang merencanakan pengembangan Kampung Kambing di beberapa Kabupaten, dijajagi pengembangan bibit beberapa jenis tanaman yang dapat dikembangkan dengan sistem kultur jaringan agar dapat dengan cepat dikembangkan sebagai Kebun Bergizi untuk budi daya tanaman makanan ternak. Suatu kombinasi yang saling menguntungkan antara peternakan dan perkebunan rakyat di pedesaan yang rakyatnya energik dan siap maju mandiri.

Dari peninjauan selama satu hari penuh itu telah dilakukan semacam perjalanan keliling kebun yang sangat luas guna melihat fasilitas yang tersedia dan dikembangkan oleh Seameo Biotrop yang dengan mudah dapat ditularkan untuk kegiatan Posdaya di pedesaan. Salah satunya adalah pengembangan perikanan lele dalam suatu paduan dengan kolam-kolam buatan yang sederhana dengan kepadatan tertentu sehingga aliran airnya dapat diatur secara rutin dan karena cara pemberian makannya dapat diatur dengan baik, maka dapat dijamin pertumbuhan lele akan bisa diatur dengan baik untuk konsumsi yang lebih bersifat komersial oleh rakyat biasa yang memelihara kolamnya di halaman rumah yang relatif sempit.

Kesempatan lain yang terbuka dan bisa difasilitasi oleh Seameo Biotrop adalah membantu anggota Posdaya dalam usaha pengembangan jamur tiram yang dapat di budi dayakan dengan sistem yang mudah dipelajari serta dikembangkan dalam pemasaran yang luas untuk makanan sederhana dan enak seperti kripik yang gurih rasanya, tambahan untuk masak dan lauk pauk lainnya serta diramu bersama makanan mewah yang menambah selera dan nilai makanan yang disajikan dengan menarik dan variasi yang luas.

Pengembangan budi daya jamur dilakukan bertahap dengan awal pengembangkan pemeliharaan jamur dalam media tanam yang sudah tersedia dan setiap hari diolah hasil panenannya dalam bentuk makanan kecil, makanan sebagai penyedap sayuran atau lauk pauk, atau bahkan rekayasa lain yang menarik. Variasi pengolahan jamur itu sangat banyak sehingga apabila bagian bagian proses itu dipotong dalam pelatihan sederhana akan bisa dimanfaatkan oleh tenaga disabilitas yang ahli atau bahkan penduduk lansia yang bisa bekerja secara santai dan sederhana.

Pelatihan awal disambung dengan pelatihan yang lebih rumit yaitu mempersiapkan media tanam dan selanjutnya mengolah jamur dengan lebih luas untuk skala supply kepada beberapa rumah makan secara berkelanjutan, komersial melalui kerja sama kelompok yang anggotanya lebih banyak lagi dan lebih bersifat atau dalam skala yang menguntungkan.
Dalam perkembangan lainnya, apabila keluarga prasejahtera atau kelompok keluarga lansia bertambah maju, maka kelompok keluarga desa bisa mengatur kegiatan bersama secara berkelompok dan bersama-sama menjadi supplier untuk keperluan komoditas lainnya yang bahan baku dan pengembangannya dapat diatur secara bergiliran agar pasokan supplynya dapat diatur dengan baik dan berkelanjutan. Sistem pengaturan berkelanjutan ini menjamin pasokan setiap hari tanpa putus sehingga konsumennya tidak dirugikan karena barang dagangan untuk keperluan sehari-hari terjamin dengan baik.
Begitu juga dengan produksi peternakan lele dapat diatur dengan kombinasi lapaknya di halaman rumah sendiri. Setiap keluarga bisa memiliki satu atau dua lapak, tetapi karena setiap Posdaya terdiri dari beberapa anggota keluarga yang banyak, maka dengan sendirinya setiap keluarga diharapkan bisa mengembangkan lelenya menurut waktu yang berbeda-beda sehingga supply untuk para langganan bisa diatur secara bergilir. Bisnis supply lele itu dapat diatur secara berkelanjutan sehingga kehidupan keluarga dalam suatu Posdaya berlangsung secara gotong royong karena mereka menjadi suatu kesatuan koperasi yang mengantar produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berkelanjutan.

Prospek lain adalah penanaman sorghum yang dimasa depan bisa menjadi bahan makanan alternatif yang menarik karena dengan relatif mudah dapat dikembangkan bibitnya mengikuti sistem pertanian modern. Tanaman ini sekaligus bisa menjadi komoditas yang pasarannya akan sangat luas karena bisa menjadi alternatif penggunaan padi dan beras yang bisa menjadi bahan makanan pokok untuk rakyat. Bahan sorghum ini bisa juga ditampilkan dalam produk seperti kue-kue yang memperlihatkan penampilan modern di kalangan rakyat banyak yang dikemudian hari akan menjadi masyarakat modern.
Kunjungan kepada Kantor Pusat Seameo Biotrop yang dikawal oleh Direkturnya yang gesit membawa inspirasi bagaimana menolong rakyat banyak melalui upaya pemberdayaan yang tidak harus dilakukan melalui charity yang tidak mendidik, tetapi melalui upaya kerja cerdas penuh kasih sayang dengan memelihara lingkungan dan melestarikan sumber daya alam yang melimpah.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Pembina Yayasan Anugerah).

About Author

PWRI [ Persatuan Wredatama Republik Indonesia ]
PWRI - Persatuan Wredatama Republik Indonesia