HomeBerita PWRIBerita PhotoBurhanudin Abdullah Sah jadi Ketum PWRI, Purnabakti Bukan Akhir Pengabdian!

Burhanudin Abdullah Sah jadi Ketum PWRI, Purnabakti Bukan Akhir Pengabdian!

Burhanudin Abdullah resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) periode 2026-2031. Burhanudin terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) PWRI yang digelar di Jakarta, Sabtu (25/7).

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu memperoleh dukungan penuh dari peserta Munas untuk memimpin organisasi yang mewadahi para wredatama atau pensiunan aparatur negara selama lima tahun ke depan.

Dalam pidato usai terpilih, Burhanudin mengajak seluruh anggota PWRI mengubah cara pandang terhadap masa pensiun. Menurutnya, purnabakti bukanlah akhir dari pengabdian kepada bangsa, melainkan awal dari kontribusi baru yang lebih matang dengan bekal pengalaman yang dimiliki para wredatama.

“Banyak orang menganggap purnabakti sebagai akhir sebuah perjalanan. Saya mempercayai yang sebaliknya. Purnabakti bukanlah akhir pengabdian, melainkan awal dari masa bakti yang lebih matang, lebih bebas, dan lebih bijaksana. Jabatan memang memiliki batas waktu, tetapi pengabdian kepada bangsa tidak pernah mengenal masa pensiun,” kata Burhanudin.

Ia mengatakan, PWRI memiliki kekuatan besar karena dihuni oleh para mantan pejabat negara, akademisi, pimpinan BUMN, BUMD, pemerintah daerah, hingga berbagai lembaga yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk negara.

Menurut Burhanudin, pengalaman, integritas, jejaring, kepemimpinan, serta pengetahuan yang dimiliki para anggota PWRI merupakan modal intelektual bangsa yang harus terus dimanfaatkan.

“PWRI bukan sekadar organisasi para pensiunan. PWRI adalah rumah besar pengalaman bangsa sekaligus pengelola modal intelektual bangsa atau national intellectual capital,” ujarnya.

Burhanudin menilai, bangsa yang mampu memanfaatkan pengalaman para seniornya akan memiliki fondasi kebijakan yang lebih kuat. Sebaliknya, bangsa yang mengabaikan pengalaman akan kehilangan sebagian kebijaksanaannya dalam menghadapi tantangan pembangunan.

Karena itu, selama masa kepemimpinannya hingga 2031, ia mengusung arah besar organisasi bertajuk

“PWRI 2031:

Organisasi Pengabdian Sepanjang Hayat.”

Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi para pensiunan, tetapi harus mampu menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Burhanudin menjelaskan, visi tersebut akan diwujudkan melalui organisasi yang berdaya, mandiri, bermartabat, serta mampu memberikan pemikiran yang independen dan konstruktif bagi pembangunan nasional.

Untuk merealisasikan visi tersebut, kepengurusan baru menetapkan lima program prioritas.

Pertama, menghimpun serta mengelola pengalaman, jejaring, kepemimpinan, integritas, dan tacit knowledge para wredatama agar menjadi kontribusi nyata bagi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, koperasi, UMKM, maupun masyarakat melalui kajian kebijakan, forum diskusi, mentoring, dan berbagai kegiatan pengabdian.

Kedua, memperkuat kelembagaan PWRI melalui tata kelola organisasi yang transparan, profesional, akuntabel, didukung basis data anggota yang terintegrasi serta sistem pendanaan yang sehat dan mandiri.

Ketiga, memperkuat perlindungan hukum bagi anggota melalui Lembaga Bantuan Hukum Wredatama yang akan memberikan konsultasi, pendampingan, dan perlindungan hukum secara profesional dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah.

Keempat, memperluas keanggotaan dan memperkuat konsolidasi organisasi agar PWRI menjadi rumah bersama yang semakin inklusif bagi seluruh wredatama Indonesia.

Adapun program kelima adalah mempercepat transformasi digital organisasi. Digitalisasi dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada anggota, memperkuat komunikasi organisasi, memperluas akses informasi, hingga membuka peluang pemberdayaan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan para wredatama.

Burhanudin menegaskan, seluruh program tersebut diarahkan agar PWRI mampu tampil sebagai organisasi yang relevan di tengah perkembangan zaman sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam proses pembangunan nasional.

Ia berharap lima tahun mendatang PWRI tidak hanya dikenal sebagai organisasi yang memiliki anggota dalam jumlah besar, tetapi juga organisasi yang mampu menghasilkan gagasan, memberikan solusi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi bangsa.

“Kita tidak sedang bersaing dengan siapa pun. Kita sedang menghadirkan arah dan kebijaksanaan untuk membimbing kita semua menyongsong masa depan,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Burhanudin mengajak seluruh anggota PWRI untuk terus menjaga semangat pengabdian sepanjang hayat serta menjadikan pengalaman sebagai warisan yang bermanfaat bagi generasi mendatang.

“Mari kita wariskan bukan hanya pengalaman, tetapi juga harapan; bukan hanya kenangan, tetapi juga masa depan yang lebih baik bagi Indonesia,” pungkasnya.

Sumber : MEDIA24.ID

Must Read