Home Berita PWRI PWRI Daerah Ketua PWRI Blora: Mudik Itu Berkah

Ketua PWRI Blora: Mudik Itu Berkah

Program Wredatama Menyapa kembali mengudara di penghujung bulan Ramadan 1443 Hijriah melalui Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Gagak Rimang Blora, Kamis (28/4/2022) malam.

Ketua Persatuan Wredataa Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora H. Bambang Sulistya hadir sebagai narasumber di studio radio legendaris Pemkab Blora dengan mengusung tema “Mudik Itu Berkah”

“Saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah untuk menyampaikan ungkapan positif yang berkaitan dengan susana gegap gempitanya kegiatan mudik melalui siaran radio Gagak Rimang,” ungkapnya, Jumat (29/4/2022).

Menurutnya, sudah dua tahun masyarakat Indonesia harus menahan diri tidak melaksanakan tradisi mudik akibat pandemi Covid-19.

“Kita patut berterima kasih atas kebijakan Bapak Presiden Jokowi, bahwa di Ramadan 2022 pintu mudik dibuka kembali dengan tetap memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan,” ucap mantan Sekda Blora itu.

Diungkapkannya, memang sudah menjadi tradisi khas Nusantara ketika perayaan keagamaan selalu diwarnai adanya kegiatan mudik. Selama ini mudik dapat diartikan sebagai tradisi pulang kampung.

Dalam bahasa jawa mudik dimaknai “mulih disik” atau dari kata udik yang dalam bahasa Betawi artinya kampung. Ada yang menafsirkan mudik berasal dari bahasa Arab “Al-aud” yang berarti kembali.

Mudik adalah kembali ke asal,yakni udik. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti pulang ke kampung halaman. Pulang ke kampung halaman yang jauh dari aktivitas keramaian dan dinamika kota.

Mudik dilakukan secara berulang-ulang, baik ketika Lebaran, liburan sekolah, Natal dan tahun baru. Sehingga mudik menjadi budaya atau tradisi di Negara Pancasila.

Menyadari penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, maka puncak mudik adalah ketika perayaan Idulfitri. Berjuta manusia yang disertai angkutan tranportasinya berduyun-duyun menyemut pulang kampung.

Tradisi mudik bukan rekayasa pemerintah atau ciptaan negara. Namun mudik merupkanan naluri alamiah manusia untuk kembali ingin menebarkan kerinduan dan kedamaian kepada orang tua, saudara, sahabat, teman-teman dan kampung halaman.

Mudik sudah menjadi  identitas budaya Nusantara yang merupakan dari para leluhur.

“Bahkan menurut Umar Kayam seorang Sastrawan,budayawan, sosiolog dan Guru besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada berpendat bahwa mudik merupakan tradisi yang sudah ada sejak Zaman Kerajaan Hindu- Buddha,” paparnya.

Dahulu mudik dimanfaatkan oleh para petani Jawa mengunjungi kampung kelahiran untuk berziarah ke makam para pendahulunya.

Disamping untuk bertemu dengan orang tua dan saudara keluarga besarnya. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini tren mudik juga mengalami pergeseran makna dan nilai.

Tidak sekedar pulang kampung dan bertemu keluarga besar dan mengenang masa lalunya. Namun mudik ternyata memiliki berbagai manfaat yang berdampak positif bagi kehidupan di masyarakat.

“Karena ada ungkapan bahwa kegiatan mudik itu merupakan ekspresi yang memiliki makna sebagai dimensi spiritual-kultural, dimensi psikologis dan demensi sosial. Sehingga saya merumuskan nilai manfaat mudik dalam sebuah Akronim BERKAH,” ungkapnya.

Dikatakan Bambang Sulistya, berkah dalam hal ini tidak sekedar kenikmatan, kebahagian dan kebaikan hidup akan tetapi memiliki berbagai keuntungan yang diharapkan ketika kita melaksanakan ritual mudik, diantaranya sebagai berikut.

Huruf B-Bertemu dengan keluarga besar orang tua kita dan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai ajang silahturahmi kepada saudara, sahabat, tetangga dan teman masa lalu.

Hal itu dapat memberikan sebuah kebahagian yang alami dan sekaligus mampu memberi sentuan nurani bahwa kita adalah saudara.

Bukan lagi merasa jadi orang asing di keluarga besar orang tua dan kampung kelahiran kita sendiri. Kita akan dapatkan berbagai cerita masa lalu dan masa kini yang membuat kita terhibur dan bisa meningkatkan imunitas diri.

Kemudian E-Evaluasi diri tentang keberadaan kita saat ini. Baik yang menyakut status sosial, hubungan kekeluargaan ,kepekaan sosial  maupun dalam pengamalan spiritual.

Kegiatan evaluasi diri disaat mudik adalah momentum yang tepat sehingga dapat dijadikan referensi untuk penyempurnaan mudik di masa yang akan datang.

Huruf R-Ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi kegersangan hidup dalam jiwa para pemudik yang selama ini hidup di kota penuh dengan tekanan,kekerasan dan beban kerja yang dapat mendorong timbulnya emosi dan stress.

Bertemu dengan sanak saudara, sahabat bermain dan teman sekolah dan suasana di kampung halaman akan merasakan kenyamanan, ketenangan dan bernostalgia masa lalu akan menjadi obat penyejuk hati dan rindu.

Selanjutnya huruf K-Kesempatan untuk belajar sabar dan hidup sederhana. Ketika di perjalanan saat menghadapi kepadatan lalu lintas kita sudah berlatih bersabar apalagi pada saat pulang masih dalam keadaan berpuasa.

Ketika di kampung kita menyaksikan kehidupan dimasyarakat hidup guyup rukun penuh kesederhanaan dan makan seadanya.Kondisi semacam itu dapat menginspirasi dan memberikan pelajaran yang berharga untuk hidup sederhana.

Berikutnya hurup A-Agen perubahan dan peradapan bagi para pemudik untuk mendorong kemajuan di kampung halaman.

Kehadiran pemudik di kampung halaman tidak hanya menebar cerita- cerita pengalaman di perkotaan atau tempat kerja tapi sangat diharapkan dapat membagikan berbagai gagasan yang mampu memberikan spirit bagi masyarakat di kampung halaman.

Sehingga ada slogan yang harus diimplementasikan “Pulang Kampung Harus Beruntung”. Baik untung pada diri sendiri maupun untung untuk kampung halamanya.

Selain gagasan kehadiran para pemudik juga dapat mengukit perekonomian di daerah/ kampung halaman karena budaya kepyur kepada kaum duafa pasti juga dilakukan bagi para pemudik.

Terakhir huruf H, Hadirkan semangat dan harapan baru bagi masyarakat dan para pemudik. Tentu setelah bersosialisasi selama berlibur di kampung halaman banyak hal yang dapat diperoleh terutama yang berkesan positif sepertinya kita tambah saudara, tambah ide dan tambah jaringan kehidupan. Sehingga kedepan kita bisa memiliki harapan, esok harus lebih baik dari pada hari ini.

Akhirnya secara sadar kita paham bahwa mudik itu Berkah yang mengadung banyak manfaat bagi hidup dan kehidupan kita di masyarakat.

“Karena itu mudik harus dilestarikan dan jadikan mudik sebagai upaya untuk melakukan amal saleh dan kebajikan. Kyai Gaul membawa buah Sirsat, Buah sirsat obat asam urat, Hari Raya sudah dekat,J angan lupa sedekah dan berzakat,” tuturnya.

Sumber: infoPublik.id

Must Read

Perayaan 60 Tahun PWRI Usung Semangat Kebangkitan

Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) tahun ini akan memasuki usia 60 tahun. Dalam rangka perayaan ulang tahun PWRI yang ke-60, PWRI akan mengadakan rangkaian...

Rencana Kegiatan HUT PWRI 60 Tahun 2022

Rapat Panitia HUT PWRI 60 Tahun 2022 pada Selasa (21/6/2022) di Kantor PB PWRI, Graha Wredatama, Jakarta Selatan menghasilkan beberapa poin penting. Salah satunya...

Ketua PWRI Wonosobo: Pensiunan ASN Wonosobo Wajib Gabung PWRI

Seluruh pensiunan ASN Wonosobo wajib bergabung di organisasi Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI). Hal tersebut didasari salah satu hasil Musyawarah Nasional (Munas) PWRI tingkat...

Wawali Terima Kunjungan PWRI Gorontalo

Wakil Wali (Wawali) Kota Palu, dr. Reny A. Lamadjido, menerima kunjungan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Gorontalo, Kamis(16/6/2022) di ruang rapat Bantaya Kantor...